Posts

Apa itu wefluencer yang lagi viral di medsos?

Image
Kalau kamu fikir wefluencer sempurna, baca dulu 🚫1. Wefluencer tidak memiliki platform tempat creator mengunggah konten. Semua aktivitas terjadi di: TikTok Instagram Facebook (kadang) Artinya seluruh workflow Wefluencer bergantung pada aturan dan algoritma pihak ketiga. Jika salah satu platform: mengubah API, membatasi akses data, mengubah aturan sponsor, memperketat posting promosi, maka Wefluencer langsung terkena dampaknya. 🔥 2. TikTok & IG sering mengubah kebijakan Platform sosial terkenal tidak stabil dalam hal kebijakan. Contoh perubahan yang sebelumnya telah mengguncang creator/affiliate di Indonesia: Pembatasan fitur TikTok Affiliate di masa lalu Banyak akun tiba-tiba dibanned permanen karena aktivitas sponsor tidak sesuai pedoman Perubahan aturan “branded content” Pembatasan API pihak ketiga (contoh: Instagram pernah mematikan banyak platform otomatis) Kalau TikTok suatu hari memutuskan: “Kami batasi akses platform seperti Wefluencer untuk membaca performa creator.” Maka...

Kesadaran tidak terletak pada otak

Image
Pada kesempatan menulis kali ini - murni karena saya ingin menulis - tanpa bantuan AI tapi menggunakan keyborad mekanik wire yang saya langsung colokan ke hape. Nah di hari santay saya mulai merenungkan kembali mengapa manusia bisa memiliki kesadaran internal dalam dirinya? Secara logika darimana sebenarnya kesadaran itu berasal? Dari otak? Tampaknya tidak. Tampaknya kesadaran sejalan dengan prinsip fisika quantum terbentuk dari medan gaya yang bersumber dari sebuah kesatuan sumber daya. Jadi meski kita memiliki kecerdasan atau intelijensia, yang dapat di telusuri dari jumlah volume, ukuran plus kapasitan biologis kita, kesadaran adalah sebuah realita yang abstrak yang tidak bersumber dari diri kita sebagai penggeraknya. Benar, mesin biologis tubuh kita sebagai piranti penerima sinyalnya, benar karena instrumen tubuh manusialah yang paling cocok menerima gelombang kesadaran, bukan hewan karena keterbatasan desain tubuh biologis mereka. Tidak! itu hanya asumsi saja. Tapi baiklah! Saya c...

Ai: Semakin canggih semakin halu

Image
Kata Ai agamaku benar, ...tapi kata temanku Ai yang sama melalui hapenya bilang bahwa agamanyalah yang benar...?? Para peneliti semakin tidak percaya pada kemampuan AI alias kecerdasan buatan. Dalam pratinjau laporan tahun 2025 tentang dampak teknologi terhadap penelitian, penerbit akademis Wiley merilis temuan awal tentang sikap terhadap AI. Ternyata, para ilmuwan menyatakan kepercayaan lebih rendah terhadap AI dibanding pada tahun 2024, ketika AI justru belum secanggih sekarang. Awalnya mereka percaya Ai dapat melebihi kecerdasan manusia, namun anggapan ini cenderung menurun di tahun 2025. Nah mengapa ini terjadi adalah karena beberapa temuan, Ai memiliki dampak halunisasi yang semakin meningkat seiring dengan kecanggihan teknis mereka yang meningkat. Ai di buat seolah untuk menyenangkan pengguna. Yup, pengguna bisa saja tidak menyadari, bahwa Ai bisa menyesuaikan diri dengan isi pikiran pengguna melalui interaksi yang cukup panjang. Contoh paling klasik saat seorang bertanya, terl...

Antara Ibadah dan Sistem: Ketika Haji Tak Lagi Sekadar Soal "Mampu"

Image
Antara Ibadah dan Sistem: Ketika Haji Tak Lagi Sekadar Soal "Mampu" Oleh: editvlogtema info — Refleksi singkat untuk generasi terpelajar Haji adalah rukun Islam yang diwajibkan bagi mereka yang mampu . Tapi apa yang terjadi ketika konsep "mampu" berhadapan dengan antrian puluhan tahun, logika investasi dana haji, dan kebijakan negara? Di sinilah muncul sebuah paradoks: kewajiban personal tersandera oleh sistem besar. Tulisan ini mengajak pembaca—khususnya generasi muda yang terpelajar—membaca ulang kata "mampu" dengan jujur, bukan sekadar mempertahankan argumen lama. Saya menempatkan persoalan ini ke dalam tiga aspek singkat dan tegas: definisi kemampuan, keadilan antar generasi, dan implikasi pengelolaan dana. 1. Definisi "Mampu" yang Terbelah Dalam teks agama, "mampu" umumnya dipahami sebagai kemampuan finansial dan fisik. Realitanya sekarang lebih kompleks. Seseorang mungkin punya tabungan cukup, sehat jasmani, dan niat kuat—tet...

Zaman AI, video deep fake sulit di bedakan dari Asli.

Image
Guys, saya ingin berbagi pengalaman kecil bagaimana sebuah aplikasi edit video seperti capcut memiliki kemampuan menakjubkan karena telah di lengkapi dengan AI. Capcut adalah aplikasi editing video paling populer, di buat oleh byte Dance, perusahaan asal cina yang juga memiliki tiktok, membuatnya sangat powerful dan dan mudah dipergunakan dan di aplikasikan kepada kegunaan praktis berkat adanya platform berbagi video yang mendukung pelatihan AI nya.  Sebagai contoh saya mengambil gambar berikut (agar tidak mengambil properti orang lain saya gunakan gambar diri sendiri saja) menggunakan kamera depan hape samsung tua saya A54 5G. Dan karena kualitas kamera depan memang jelek, lalu saya mengeditnya menggunakan template capcut menjadi begini: Lalu di capcut saya memasukannya ke timeline capcut dan memilih tool video AI dan memasukan perintah:  "Rubah gambar menjadi video dimana si pria menyanyikan lagu slow rock bergaya melayu era 90-an, dengan tempo 65 BPM. Vokal pria emosional d...

MICHAEL GORBACHEV vs DONALD TRUMP

Image
Trump dan Gorbachev: Dua Jalan, Satu Efek pada Dunia Sejarah terkadang bergerak bukan hanya oleh mereka yang dianggap bermoral , melainkan oleh mereka yang membuka celah baru dalam percaturan global. Michael Gorbachev di Uni Soviet dikenang sebagai sosok yang dengan niat moral dan keberanian meruntuhkan tembok lama, membuka ruang bagi dunia baru yang lebih transparan. Donald Trump di Amerika, meskipun sering dianggap tidak dapat dipercaya secara moral dan hanya berorientasi pada bisnis, justru tanpa sadar menciptakan efek serupa: membuka jalan bagi lahirnya dunia multipolar. Presisen terakhir Uni Soviet President terkini Amerika Serikat   Gorbachev dengan moral reformis, Trump dengan gaya bisnis—dua arah berbeda, satu dampak besar. Perbedaannya jelas: Gorbachev bertolak dari idealisme, sebuah moralitas politik untuk membuka Uni Soviet. Trump sebaliknya, lebih mengedepankan kepentingan jangka pendek, nasionalisme ekonomi, dan kebijaka...

Paradox Malaikat dan Iblis

Image
Agama, Iblis, dan Paradoks Kebaikan: Renungan tentang Keyakinan Oleh: editvlogtema | September 15, 2025 Sejak kecil, kita diajarkan bahwa agama adalah kebenaran. Kita tumbuh dengan keyakinan itu, seolah-olah ia adalah udara yang tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Tapi bila direnungkan, agama sesungguhnya lahir dari keyakinan yang ditanam sejak dini—bukan dari logika murni yang bisa diuji dengan akal. Mari kita lihat sejenak pada agama-agama besar yang disebut Abrahamik. Semua berakar dari satu sumber: tradisi Semit. Yahudi lahir lebih dulu, kemudian Kristen muncul, mungkin karena perbedaan budaya, mungkin karena Yahudi terlalu eksklusif. Lalu Islam hadir, menyesuaikan dengan watak Arab. Akar mereka sama, namun jalan yang mereka tempuh berbeda tajam. Setiap agama membawa pesan yang sama: keselamatan hanya untuk mereka yang berada di dalam lingkarannya. Seolah-olah Tuhan berpihak hanya pada satu kelompok. Maka meskipun berasal dari akar yang sama, perbedaan tet...